Untuk meningkatkan pelayanan air minum masyarakat Bengkulu dalam upaya pemenuhan target MDG’s 2015 sebesar 100% maka perlu dilakukan kegiatan pembangunan sistem penyediaan air minum dengan memanfaatkan sumber air baku yang lebih layak dan lebih murah. Salah satunya adalah pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Propinsi Bengkulu yang melayani Kota Bengkulu, Kabupaten Bengkulu Tengah dan Kabupaten Seluma.
Dalam rangka mempercepat pembangunan Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) Regional Provinsi Bengkulu, pemerintah propinsi Bengkulu melalui Kepala Biro Administrasi Pembangunan Setda Propinsi Bengkulu Husni Mulyadi, dan Kepala Bidang Cipta Karya Anuwar Yasin, beserta Satuan Kerja (Satker) Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air Minum (PKPAM) mengadakan pembahasan pradesain SPAM Regional Bengkulu di Kantor Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Sumatera VIII di Palembang, beberapa waktu lalu.
Penyediaan air minum merupakan salah satu kebutuhan dasar dan hak sosial ekonomi masyarakat yang harus dipenuhi oleh Pemerintah, baik itu Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat. Ketersediaan air minum merupakan salah satu penentu peningkatan kesejahteraan masyarakat, yang mana diharapkan dengan ketersediaan air minum dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan dapat mendorong peningkatan produktivitas masyarakat.
Acara dipimpin oleh Kepala BBWS Sumatera VIII Sumatera Selatan, Bistok Simanjuntak yang dihadiri oleh Bidang Perencanaan BBWS Sumatera VIII Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kepala Biro Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Bengkulu, Kabid Cipta Karya Provinsi Bengkulu, Kasi Penyehatan Lingkungan dan Staf Satker PKPAM Bengkulu.
Kepala Biro Pembangunan Setda Provinsi Bengkulu Husni Mahyudin mengatakan, hasil kesepakatan untuk tahap pertama pembangunan SPAM Regional Provinsi Bengkulu dengan debit 400 l/dt dimana pembangunan sarana dan prasarana air baku akan dilaksanakan dengan kontrak tahun jamak. “BBWS Sumatera VIII mendukung dan akan memprogramkan kegiatan-kegiatan berdasarkan kewenangannya yaitu mulai dari Intake ke IPA dan pipa transmisi untuk pemenuhan kebutuhan pelayanan air minum, khususnya di daerah kabupaten/kota yang tidak memiliki air baku yang memadai. Selanjutnya proses dilanjutkan pada tahapan penyusunan Detail Engineering Design (DED),” tambah Husni.